thePROFEC

  • PDF

Calon Magister Merangkap Bakul

Calon Magister Merangkap Bakul

BAKUL (penjual) tahu, demikian Rudik Setiawan biasa dipanggil di kalangan teman satu kampus. Dia mengatakan tidak minder meski dikenal sebagai penjual tahu. ''Sudah lama dipanggil bakul tahu, yakni ketika masih kuliah S-1. Mulai teman sampai dosen pun tahu,'' tuturnya.

Bahkan sampai menempuh pendidikan S-2, Rudik dikenal sebagai juragan tahu. Karena itu, Rudik kerap menerima pesanan dari teman dan dosen. Jika sudah demikian, pria kelahiran 4 Oktober 1984 tersebut melayani dengan senang hati. ''Ada yang pesan, sedikit maupun banyak langsung saya bawa ke kampus,'' ucapnya.


Dia menuturkan mulai dikenal sebagai penghasil tahu ketika masih kuliah semester III di Universitas Brawijaya. Saat itu dia menjajal lomba kreativitas tingkat mahasiswa. Lalu pada 2005, Dji Sam Soe Award mengadakan seleksi pengusaha muda. ''Ternyata saya juara II,'' kenangnya.

Menurut Rudik, belajar berbisnis di usia belia sangat membantunya. Sebab, berwirausaha membutuhkan keterampilan. Apalagi, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan kian ketat. ''Nah, saya sudah mantap berprofesi sebagai penjual tahu,'' ujar pria yang menyukai musik dangdut tersebut.

Untuk itu, dia menularkan keinginan berwirausaha tersebut kepada saudara dan orang tua. Bahkan, istrinya pun diserahi bisnis depot. Suplai makanan berbahan baku tahu tentu dari pabriknya. ''Ada dua depot yang dikelola istri saya,'' katanya.

Dia mengatakan, sebenarnya keinginan untuk berjualan tahu tidak pernah ada. Pada masa sekolah, Rudik ingin menekuni bidang teknologi informasi. Bahkan, dia pernah membuka toko komputer. Karena itu, berkuliah di jurusan matematika bakal melancarkan usahanya tersebut. ''Ternyata peruntungan saya tidak di bidang itu sehingga toko komputer tutup dan bisnis tahu tetap berjalan,'' jelasnya. Meski begitu, dia berupaya menyalurkan hobinya itu dengan merakit komputer dan barang elektronik untuk kebutuhan sendiri. (res/kim)

www.jawapos.co.id