thePROFEC

  • PDF
  • Print

Welcome Paragraph

  • - History
  • Tuesday, 01 September 2009 00:00
  • Written by Indra Sugihwo

Inilah paragraf yang selalu menyapa di milis PROFEC. Selalu mengingatkan anggotanya akan sejarah,visi dan misi PROFEC. Menampung segala bentuk kesempatan dan berbagi pengalaman dalam berwirausaha.

"The Professional & Entrepreneur Club (thePROFEC) was developed on October 14, 2005 for the Professionals, Entrepreneurs and the candidates of both of them to accomodate the aspiration and idea of all members as well as to share knowledge and experiences among them. We also give opportunity to members to promote their products and services every Friday by fulfilling rules. Every members's aspiration have to be considered and fulfilled as long as still in the corridor of the Club's vision and mission."

  • PDF
  • Print

KITA SEMUA BISA BERUNTUNG

  • - History
  • Wednesday, 16 September 2009 21:50
  • Written by Indra Sugihwo

Semangat kewirausahaan yang menaungi PROFEC dengan memberikan inspirasi bagi anggotanya.

Sebuah tulisan yang dikirimkan sebagai tanda nyata semangat perdana hadirnya PROFEC. KITA SEMUA BISA BERUNTUNG, tulisan ini merupakan wujud semangat yang dapat terus dikobarkan bagi mereka yang memilih terjun di dunia wirausaha. Bahwa semua orang memiliki kesempatan dan keberuntungan. Keberuntungan merupakan hal yang jamak. Jadi apapun usaha yang akan kita bangun, akan selalu memiliki keberuntungan walau sekecil apapun.

Berikut isi tulisannya.

KITA SEMUA BISA BERUNTUNG
Penulis: Gede Prama

Diantara cabang belajar yang menyedot demikian banyak perhatian orang adalah ilmu keberuntungan. Dan ia tidak saja menarik banyak peminat, melainkan juga berumur demikian lama. Sebut saja larisnya buku-buku Feng Shui, atau larisnya konsultan di bidang yang serupa. Dalam kalkulasi seorang sahabat manajer sebuah toko buku, nilai uang yang beredar untuk mengongkosi ilmu keberuntungan tidak kurang dari jutaan dolar.

Pertanyaan dasar yang mengganggu banyak orang dalam hal ini, apakah keberuntungan hanya menjadi milik segelintir orang, ataukah bisa dimiliki semua orang ? Ini memang pertanyaan klasik yang telah, dan mungkin akan ditanyakan orang terus sepanjang zaman. Kalau bahan acuan keberuntungan adalah bentuk hidung, dagu dan bentuk-bentuk fisik lainnya, benar keyakinan pertama bahwa keberuntungan hanyalah milik orang dengan bentuk-bentuk fisik tertentu. Jika bahan acuannya adalah sikap dan perilaku, cerita tentu saja menjadi lain.

Kendati sering kali disebut sejumlah pengusaha Chinese sebagai orang yang memiliki bentuk-bentuk fisik yang penuh keberuntungan, saya cenderung untuk berargumen kalau keberuntungan lebih terkait dengan sikap dan perilaku. Mirip dengan prinsip yang tergantung rapi di salah satu ruangan kerja saya : "Attitude is a little thing that makes a big difference". Sikap adalah hal kecil yang membuat perbedaan besar, demikianlah acuan awal saya dalam memandang keberuntungan.

Anda bisa bayangkan seorang yang amat pintar, berpengalaman dan bahkan berprestasi mengagumkan. Ia memang akan dilirik banyak sekali orang dan perusahaan. Cuman kalau semua kehebatan terakhir dibungkus dengan sikap-sikap yang menyakiti hati otang, di sini berlaku rumus kehebatanmu adalah harimaumu. Dan saya bertemu orang seperti ini dalam frekuensi yang cukup sering. Ada yang memamerkan kesombongan di sana-sini. Ada yang hidup dari satu sakit hati satu orang ke sakit hati orang lain. Memang tidak bisa dipungkiri, ada sebagian dari mereka yang ditemani keberuntungan sesaat. Akan tetapi pengalaman saya bertutur lain. Dalam jangka panjang, kesengsaraan adalah sahabatnya kesombongan.

Semua orang pada dasarnya memiliki kekurangan, hanya saja menutupinya secara berlebihan, hanya akan menimbulkan pandangan-pandangan mata yang tidak terlalu bersahabat. Sadar akan hal ini, saya pernah terinspirasi oleh sebuah renungan Konfusius yang ditulis seorang penulis jernih. "Humility and modesty are the best protection against the wrong opinion of the others", demikian penulis jernih ini pernah bertutur. Dengan kata lain, penyelamat terbaik kita dari pendapat dan persepsi keliru yang datang dari orang lain bernama kesopanan dan sikap rendah hati.

Dan ini bukan tanpa bukti, ia didukung oleh banyak sekali deretan bukti. Hidup saya sebagian diselamatkan oleh dua penyelamat terakhir. Ketika siap-siap untuk naik ke kursi nomer satu di sebuah perusahaan swasta, ada yang menarik kaki, menggergaji kursi, difitnah dengan kebencian-kebencian dan godaan-godaan sejenis. Kadang rasa marah dan dendam suka datang. Syukurnya, godaan-godaan ini berkunjung ketika Tuhan sudah mempersenjatai saya dengan dua penyelamat di atas. Sebagai hasilnya, banyak ramalan orang-orang yang dipatahkan hanya oleh dua prinsip hidup yang sederhana : kesopanan dan sikap rendah hati.

Sayangnya, mirip dengan langit-langit rumah yang membatasi pandangan kita ke angkasa, demikianlah kesombongan menghalangi kesopanan dan sikap rendah hati. Bagi sahabat-sahabat yang sudah demikian kuatnya diikat oleh kesombongan, bahkan mengindentikkan dua penyelamat di atas sebagai "kebodohan dan keluguan". Dan sayapun sudah cukup sering disebut bodoh dan lugu. Tidak mengerti bisnis, buta huruf di bidang keuangan, kurang ngotot dalam mencapai target hanyalah sebagian stempel kebodohan dan keluguan yang pernah dilemparkan ke saya. Mirip dengan parasut yang sudah terikat rapi di badan demikian juga dengan dua penyelamat di atas. Sebanyak dan sesering apapun lemparan-lemparan tidak mengenakkan datang dari orang lain, sebanyak dan sesering itu juga modesty and humility datang sebagai penyelamat.

Bedanya dengan malaikat penyelamat yang dibayangkan banyak orang dan hanya berkunjung dengan syarat-syarat yang berat, dua penyelamat ini bisa sering datang dengan syarat sederhana : latihan. Ya sekali lagi latihan dan hanya latihan. Dan sang hiduppun memberikan tempat dan waktu latihan yang hampir tidak terbatas. Belajar dari cerita di atas, mulailah dengan membebaskan diri dari langit-langit yang bernama kesombongan. Seorang sahabat pernah bertutur, kalau kesombongan tidak menguntungkan siapa-siapa dalam jangka panjang. Kalau mempertinggi ego sesaat tentu saja sulit diingkari. Namun hidup untuk ego, bukankah itu sebentuk kemewahan yang hanya bisa dimaklumi kalau terjadi di masa kanak-kanak ?

Boleh saja ada yang menyebutnya terlalu menyederhanakan, namun begitu langit-langit kesombongan bisa ditembus, maka kesopanan dan sikap rendah hati akan sering datang berkunjung. Dan keduanya tidak saja berkunjung dengan misi sebagai penyelamat, tetapi juga bisa membuat orang hidup penuh keberuntungan. Coba perhatikan apa yang pernah ditulis Chao-Hsiu Chen dalam The Bamboo Oracle : "A friendly heart creates happy people. A happy heart creates lucky people". Jadi, kenapa mesti ragu-ragu. Kalau saya bisa dibuat beruntung oleh kesopanan dan kerendahan hati, Andapun bisa hidup beruntung dengan modal yang sama.*****

 

 

  • PDF
  • Print

BUKA PUASA BERSAMA-PERDANA

  • - History
  • Wednesday, 16 September 2009 22:04
  • Written by Indra Sugihwo

 

BUKA PUASA BERSAMA – PROFEC PERDANA

Tepat 4 tahun sudah PROFEC tetap dalam semangat kebersamaanya. Sungguh bukan waktu yang sedikit. 

Kamis 20 Oktober 2005 untuk pertama kali milis ini melakukan acara buka puasa bersama di Sate Khas Senayan Menteng. Merayakan bulan penuh berkah dengan kebersamaan.

Tahun  ini pula kami semakin meyakinkan akan kebersamaan dan silahturahmi di dalam PROFEC. Kembalinya anggota lama bahkan , kembali semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpi sederhana kami. Sebuah situs ThePROFEC akan menjadikan kebersamaan dan ajang silahturahmi yang selalu terjalin tanpa memperdulikan tembok pemisah. Semangat wirausaha adalah semangat yang universal, semangat yang didasari dari kepedulian serta membuka kesempatan bagi orang lain.

 

ThePROFEC

 

  • PDF
  • Print

Surat Perdana PROFEC

  • - History
  • Wednesday, 16 September 2009 23:45
  • Written by Indra Sugihwo

Berawal dari sebuah wacana dan berkumpulnya teciptalah rasa kebersamaan yang sangat mendalam. Kesamaan pandangan dan pemikirin menyatukan perbedaan yang ada. Sebuah kesepakatan yang sangat sederhana namun menciptakan komunitas yang memiliki jiwa besar dalam kebersamaan untuk saling berbagi, bertoleransi dan tentunya saling menguatkan. Sebuah pemikiran memanglah dapat diawali kesederhanaan, terkadang pemikiran merupakan sebuah hal yang dapat kita lupakan. Benturan, halangan bahkan penolakan akan membuat sebuah pemikiran terbuang jauh. Namun dari sebuah pemikiran yang ditindak lanjutilah sesuatu yang besar dan kuat dibentuk.

Berikut kutipan surat milis perdana oleh pengayom PROFEC yang kami banggakan.

"Pertama tama saya ingin mengucapkan salam hangat bagi anda semua, setelah terakhir kali kita bertemu tgl. 16 september yang lalu rasanya ada yang hilang dalam diri saya, yaitu rasa kebersamaan, ada kevakuman di dalam hati ini.

Seperti yang sudah disepakati bersama kita akan membuat sebuah milis yang berfungsi sebagai wadah untuk komunikasi antar anggota, ajang belajar, ajang berbagi dan ajang bertoleransi. Karena kesibukan yang menggunung maka baru sekarang bisa dibuat yaitu pofessional_entrepreneur_club@..., nama ini terinspirasi dari background anggota kebanyakan terdiri dari professional dan para wiraswastawan yang merintis usaha sendiri walau ada satu dua yang berstatus mahasiswa tapi mereka juga bisa bergabung dalam milis ini.

Untuk sementara ini yang tergabung adalah nama nama yang waktu pertemuan setuju untuk dibuatnya sebuah milis, bagi yang tidak setuju namanya tidak dicantumkan. Namun mohon maaf belum semua nama tercantum maklum kerjainnya sambil kerja.

Salam,

Lies Sudianti

 

Sungguh sederhana. Itulah awal benih kami. Dengan kebersamaan telah banyak hal kami lalui. Kini saatnya PROFEC lebih menyuarakan semangat kebersamaan untuk memberi jiwa kewirausahaan bagi siapa saja untuk lebih baik. Situs ThePROFEC adalah wujud nyata rasa kebersamaan yang ingin kami bagikan.

 

ThePROFEC

 

Page 2 of 2